
KETEGANGAN dan situasi genting melanda Jakarta pada 28-29 Agustus 2025. Sejumlah peristiwa tragis terjadi seperti seorang pengemudi ojek daring Affan Kurniawan tews akibat dilindas kendaraan taktis Brimob serta eskalasi demo yang berujung pada aksi anarkis dan kerusakan fasilitas publik.
Karena itu, Perkumpulan Alumni Atma Jaya (Perluni UAJ) menyampaikan beberapa sikap resmi.
1. Turut berbelasungkawa secara mendalam.
“Kami menyampaikan rasa duka cita sedalam‑dalamnya atas meninggalnya saudara Affan Kurniawan, pengemudi ojek online, yang menjadi korban dalam insiden truk taktis Brimob pada 28 Agustus di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat,” ujar Ketua Umum Perluni UAJ Michell Suharli dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/8).
Pihaknya berharap keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kekuatan, penghiburan, dan dukungan dari berbagai pihak. Ia juga mengapresiasi upaya pemerintah dan pihak kepolisian dalam memberikan tanggapan, termasuk permintaan maaf dari Kapolri dan penahan sementara tujuh anggota Brimob terkait.
2. Pemimpin harus menunjukkan empati di tengah krisis ekonomi.
Dalam masa ekonomi yang masih sangat sulit bagi rakyat ditandai dengan tuntutan demonstran terhadap kenaikan tunjangan parlemen, tingginya biaya hidup, pemutusan hubungan kerja, hingga naiknya pajak properti, kewajiban pemimpin adalah tampil sebagai pelindung dan pendengar. Aksi demo yang berawal dari rasa ketidakadilan ini semestinya ditanggapi dengan kepekaan, bukan dengan tindakan represif.
3. Kekerasan bukan solusi, hentikan segala bentuk kekerasan.
Perluni UAJ mengecam setiap bentuk kekerasan dalam unjuk rasa, baik yang dilakukan oleh aparat maupun pihak demonstran. Insiden berujung fatal seperti kematian Affan hanya akan memperlebar luka dan memperlemah ikatan kebangsaan kita. Demo harusnya menjadi ruang dialog, bukan alat perusakan.
4. Waspadai provokasi identitas dan Isu SARA.
Perluni UAJ memperingatkan agar semua pihak menjauhi provokasi bernuansa komunalisme atau SARA yang bisa memperparah keretakan sosial. Narasi yang dibangun baik di lapangan maupun di media harus disikapi secara kritis dan ditransmisikan dengan penuh tanggung jawab.
5. Tanggung jawab elite, harapan rakyat.
Pemimpin nasional harus ada yang bertanggung jawab atas kekacauan ini, baik dari eksekutif maupun legislatif, sebagai bentuk sikap kesatria sekaligus memberi ruang peluang bagi rakyat mendapatkan kepemimpinan nasional kolegial yang lebih efektif, pro kesejahteraan rakyat dan mampu menampilkan kekuatan Bangsa Indonesia dalam dinamika geopolitik global.
Perluni UAJ pun menyatakan beberapa harapan, yaitu:
• Aparat segera menyelesaikan proses hukum terhadap pelaku secara jujur dan terbuka.
• Pemimpin bangsa membuktikan empatinya secara nyata.
• Rakyat tetap menjaga persatuan dan menahan diri dari tindakan yang merusak.
• Semua pihak menolak adu domba berbasis identitas yang akan memperlemah soliditas nasional.
• Elite bertanggung jawab atas situasi ini demi memenuhi harapan rakyat dan menciptakan keteduhan dan kedamaian
Semoga Tuhan senantiasa memberi kita hikmat untuk bersikap adil, bijak, dan berbelas kasih, di tengah pergolakan ini. (I-2)